Wednesday, November 13, 2019

JENDRAL SUDIRMAN

Assalamualaikum wr.wb.

Salam merdeka bagi rakyat seluruh Indonesia!
kali ini masih dengan tema yang sama yaitu tentang pahlawan.
seperti biasanya yaitu gak panjang lebar karna sampai saat ini saya blom menemukan rumus matematikanya, dulu waktu SD pernah di ajari dan sekarang mungkin khilaf😅, kalo lupa kan kebangetan di kira ga cerdas ntar....😆😄
oke lanjut aja, kalo mau dengerin curhatan saya bisa via whatsapp (just kidding)
oke skip.. lanjut...

(baca jugaBung TomoPattimura)


Soedirman 

BIOGRAFI

Nama Lengkap : Raden Soedirman 
Nama Lain : Jendral Sudirman 
Tempat Lahir : Desa Bodas Karangjati,Purbalingga,Jawa Tengah 
Tanggal Lahir : Senin,24 Januari 1916 
Zodiac : Aquarius 
Kebangsaan : Indonesia 
Meninggal : Magelang,29 Januari 1950 
Dimakamkan : Taman Makam Pahlawan Semaki 
Agama : Islam

Jendral Sudirman merupakan sosok pahlawan nasional. Beliau lahir pada tanggal 24 Januari pada tahun 1916 di kota Purbalingga, tepatnya di Dukuh Rembang. Beliau lahir dari sosok ayah yang bernama Karsid Kartowirodji, danseorang ibu yang bernama Siyem. Ayah dari Sudirman ini merupakan seorang pekerja di Pabrik Gula Kalibagor, Banyumas, dan ibunya merupakan keturunan Wedana Rembang. Jendral Sudirman dirawat oleh Raden Tjokrosoenarjo dan istrinya yang bernama Toeridowati


PASCA-PERANG DAN KEMATIAN

Pada awal Agustus, Soedirman mendekati Soekarno dan memintanya untuk melanjutkan perang gerilya, Soedirman tidak percaya bahwa Belanda akan mematuhi Perjanjian Roem-Royen, belajar dari kegagalan perjanjian sebelumnya. Soekarno tidak setuju, yang menjadi pukulan bagi Soedirman. Soedirman menyalahkan ketidakkonsistenan pemerintah sebagai penyebab penyakit tuberkulosisnya dan kematianOerip pada 1948, ia mengancam akan mengundurkan diri dari jabatannya, namunSoekarno juga mengancam akan melakukan hal yang sama. Setelah ia berpikir bahwa pengunduran dirinya akan menyebabkan ketidakstabilan, Soedirman tetap menjabat, dan gencatan senjata di seluruh Jawa mulai diberlakukan pada tanggal 11 Agustus 1949. 

Dalam perjuangannya melawan penyakit TBC yang dideritanya, Soedirman melakukan pemeriksaan di Panti Rapih. Ia menginap di Panti Rapih menjelang akhir tahun, dan keluar pada bulan Oktober; ia lalu dipindahkan ke sebuah sanatorium di dekat Pakem. Akibat penyakitnya ini, Soedirman jarang tampil di depan publik. Ia dipindahkan ke sebuah rumah di Magelang pada bulan Desember. Di saat yang bersamaan, pemerintah Indonesia dan Belanda mengadakan konferensi panjang selama beberapa bulan yang berakhir dengan pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949. Meskipun sedang sakit, Soedirman saat itu juga diangkat sebagai panglima besar TNI di negara baru bernama Republik Indonesia Serikat. Pada 28 Desember, Jakarta kembali dijadikan sebagai ibu kota negara. 

Pada tanggal 29 Januari 1950 pukul 18.30 Soedirman wafat di Magelang; kabar duka ini dilaporkan dalam sebuah siaran khusus di RRI. Setelah berita kematiannya disiarkan, rumah keluarga Soedirman dipadati oleh para pelayat, termasuk semua anggota Brigade ke-9 yang bertugas di lingkungan tersebut. Keesokan harinya, jenazah Soedirman dibawa ke Yogyakarta, diiringi oleh konvoi pemakaman yang dipimpin oleh empat tank dan delapan puluh kendaraan bermotor, dan ribuan warga yang berdiri di sisi jalan. Konvoi tersebut diselenggarakan oleh anggota Brigade ke-9. 

Pada sore harinya jenazah Soedirman disemayamkan di Masjid Gedhe Kauman, yang dihadiri oleh sejumlah elit militer dan politik Indonesia maupun asing, termasuk Perdana Menteri Abdul Halim, Menteri Pertahanan Hamengkubuwono IX, Menteri Kesehatan Johannes Leimena, Menteri Keadilan Abdoel Gaffar Pringgodigdo, Menteri Informasi Arnold Mononutu, Kepala Staff TNI AU Soerjadi Soerjadarma, Kolonel Paku Alam VIII, dan Soeharto. Upacara ini ditutup dengan prosesi hormat 24 senjata. Jenazah Soedirman kemudian dibawa ke Taman Makam Pahlawan Semaki dengan berjalan kaki, sementara kerumunan pelayat sepanjang 2 kilometer (1.2 mil) mengiringi di belakang. Ia dikebumikan di sebelah Oerip setelah prosesi hormat senjata. Istrinya menuangkan tanah pertama ke makamnya, lalu diikuti oleh para menteri. Pemerintah pusat memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung di Sejarah - Biografi Jendral Soedirman Hermansyah Sihombing seluruh negeri, dan Soedirman dipromosikan menjadi jenderal penuh. Djenderal Major Tahi Bonar Simatupang terpilih sebagai pemimpin angkatan perang yang baru. Memoar Soedirman diterbitkan pada tahun itu, dan rangkaian pidato-pidatonya juga diterbitkan pada tahun 1970.

sekian artikel dari saya dan semoga bermanfaat .. salam Merdeka!

Wassalamualaikum wr,wb

No comments:

Post a Comment