Assalamualaikum wr.wb.
kali ini masih dengan tema yang sama yaitu tentang pahlawan.
seperti biasanya yaitu gak panjang lebar karna sampai saat ini saya blom menemukan rumus matematikanya, dulu waktu SD pernah di ajari dan sekarang mungkin khilaf😅, kalo lupa kan kebangetan di kira ga cerdas ntar....😆😄
oke lanjut aja, kalo mau dengerin curhatan saya bisa via whatsapp (just kidding)
oke skip.. lanjut...
(baca juga : Bung Tomo, Pattimura)
Soedirman
BIOGRAFI
Nama Lengkap : Raden SoedirmanNama Lain : Jendral Sudirman
Tempat Lahir : Desa Bodas Karangjati,Purbalingga,Jawa Tengah
Tanggal Lahir : Senin,24 Januari 1916
Zodiac : Aquarius
Kebangsaan : Indonesia
Meninggal : Magelang,29 Januari 1950
Dimakamkan : Taman Makam Pahlawan Semaki
Agama : Islam
Jendral Sudirman merupakan sosok pahlawan nasional. Beliau lahir pada tanggal 24 Januari pada tahun 1916 di kota Purbalingga, tepatnya di Dukuh Rembang. Beliau lahir dari sosok ayah yang bernama Karsid Kartowirodji, danseorang ibu yang bernama Siyem. Ayah dari Sudirman ini merupakan seorang pekerja di Pabrik Gula Kalibagor, Banyumas, dan ibunya merupakan keturunan Wedana Rembang. Jendral Sudirman dirawat oleh Raden Tjokrosoenarjo dan istrinya yang bernama Toeridowati
PASCA-PERANG DAN KEMATIAN
Pada awal Agustus, Soedirman mendekati Soekarno dan memintanya untuk
melanjutkan perang gerilya, Soedirman tidak percaya bahwa Belanda akan mematuhi
Perjanjian Roem-Royen, belajar dari kegagalan perjanjian sebelumnya. Soekarno tidak
setuju, yang menjadi pukulan bagi Soedirman. Soedirman menyalahkan ketidakkonsistenan pemerintah sebagai penyebab penyakit tuberkulosisnya dan
kematianOerip pada 1948, ia mengancam akan mengundurkan diri dari jabatannya,
namunSoekarno juga mengancam akan melakukan hal yang sama. Setelah ia berpikir
bahwa pengunduran dirinya akan menyebabkan ketidakstabilan, Soedirman tetap
menjabat, dan gencatan senjata di seluruh Jawa mulai diberlakukan pada tanggal 11
Agustus 1949.
Dalam perjuangannya melawan penyakit TBC yang dideritanya, Soedirman
melakukan pemeriksaan di Panti Rapih. Ia menginap di Panti Rapih menjelang akhir
tahun, dan keluar pada bulan Oktober; ia lalu dipindahkan ke sebuah sanatorium di
dekat Pakem. Akibat penyakitnya ini, Soedirman jarang tampil di depan publik. Ia
dipindahkan ke sebuah rumah di Magelang pada bulan Desember. Di saat yang
bersamaan, pemerintah Indonesia dan Belanda mengadakan konferensi panjang selama
beberapa bulan yang berakhir dengan pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia
pada 27 Desember 1949. Meskipun sedang sakit, Soedirman saat itu juga diangkat
sebagai panglima besar TNI di negara baru bernama Republik Indonesia Serikat. Pada
28 Desember, Jakarta kembali dijadikan sebagai ibu kota negara.
Pada tanggal 29 Januari 1950 pukul 18.30 Soedirman wafat di Magelang; kabar
duka ini dilaporkan dalam sebuah siaran khusus di RRI. Setelah berita kematiannya
disiarkan, rumah keluarga Soedirman dipadati oleh para pelayat, termasuk semua
anggota Brigade ke-9 yang bertugas di lingkungan tersebut. Keesokan harinya, jenazah
Soedirman dibawa ke Yogyakarta, diiringi oleh konvoi pemakaman yang dipimpin oleh
empat tank dan delapan puluh kendaraan bermotor, dan ribuan warga yang berdiri di
sisi jalan. Konvoi tersebut diselenggarakan oleh anggota Brigade ke-9.
Pada sore harinya jenazah Soedirman disemayamkan di Masjid Gedhe
Kauman, yang dihadiri oleh sejumlah elit militer dan politik Indonesia maupun asing,
termasuk Perdana Menteri Abdul Halim, Menteri Pertahanan Hamengkubuwono IX,
Menteri Kesehatan Johannes Leimena, Menteri Keadilan Abdoel Gaffar Pringgodigdo,
Menteri Informasi Arnold Mononutu, Kepala Staff TNI AU Soerjadi Soerjadarma, Kolonel
Paku Alam VIII, dan Soeharto. Upacara ini ditutup dengan prosesi hormat 24 senjata.
Jenazah Soedirman kemudian dibawa ke Taman Makam Pahlawan Semaki dengan
berjalan kaki, sementara kerumunan pelayat sepanjang 2 kilometer (1.2 mil) mengiringi
di belakang. Ia dikebumikan di sebelah Oerip setelah prosesi hormat senjata. Istrinya
menuangkan tanah pertama ke makamnya, lalu diikuti oleh para menteri. Pemerintah
pusat memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung di
Sejarah - Biografi Jendral Soedirman Hermansyah Sihombing
seluruh negeri, dan Soedirman dipromosikan menjadi jenderal penuh. Djenderal Major
Tahi Bonar Simatupang terpilih sebagai pemimpin angkatan perang yang baru. Memoar
Soedirman diterbitkan pada tahun itu, dan rangkaian pidato-pidatonya juga diterbitkan
pada tahun 1970.
sekian artikel dari saya dan semoga bermanfaat .. salam Merdeka!
Wassalamualaikum wr,wb
sumber: https://www.academia.edu

No comments:
Post a Comment